Naominesia

Naominesia, my own little (virtual) country.

Archive for the 'river of thoughts' Category

01 July
0Comments

Takut Keluar Rumah

Melihat judul posting saya ini, pikiran yang mungkin terlintas pertama kali di otak kita adalah seseorang yang takut untuk meninggalkan rumahnya, entah karena sebab apa pun itu.

Sedikit menyentuh persepsi itu, ya, benar. Tapi judul itu adalah penggambaran saya yang takut untuk keluar dari kepompong yang tengah membesarkan saya.

Saya bagaikan seekor ulat gemuk yang telah banyak makan dedaunan di sekitar saya tinggal. Ulat gemuk yang kemudian bersemedi dalam kepompongnya selama periode-periode yang tidak menentu dalam kehidupannya. Kepompong itu pun sedikit demi sedikit membuka, sekali pun belum waktunya si ulat gemuk untuk keluar. Ulat gemuk itu tidak mengetahui yakin apakah dirinya masih sama ulat gemuk yang biasanya, atau telah berubah menjadi kupu-kupu, seperti kata pendahulu-pendahulunya yang telah terbang di alam bebas mencari bunga mereka sendiri. Ia takut untuk melongok keluar. “Betulkah aku mampu terbang sendiri? Betulkah aku kini telah kuat?”

Atau aku ini hanyalah seekor anak burung, burung yang kecil, sekalipun memiliki sepasang sayap yang besar, namun tak percaya bahwa sayapnya akan aman membawanya melintasi langit-langit.

Atau mungkin.. aku adalah seekor anak harimau, yang telah cukup umur untuk mengejar sendiri buruanku, namun masih belum berani untuk meninggalkan teritori ibu harimau ku.

Atau kah mungkin.. aku adalah seekor ikan Salmon yang kebingungan mencari arah untuk kembali ke sungai?

Yang mana pun itu, aku tengah mencari jalan yang sepatutnya aku tapaki. Banyak cerita yang dinyanyikan dengan merdu, mengenai langit biru bertabur kerlip keemasan mentari, di mana aku dapat mencari sesedot nektar yang sedap, tanpa takut dimangsa para monster. Langit luas dan pepohonan tinggi berbuah padat.. dengan biji renyah nan gurih, melindungiku dari mata dan cakar sang Agung pemangsa. Padang hutan indah di mana aku tak takut pemburu menembakiku dengan kerikil panas yang menginginkan kekayaan semu dari kematianku.

Aku terkadang iri kepada para pangeran dan putri Dandelion, yang meninggalkan kerajaan Ibu Permaisuri, dengan megah, sekalipun terombang-ambing, nampaknya selalu mengalir bersama angin dan air, ke tempat yang subur di mana mereka dapat mencokolkan akarnya dan bertumbuh menjadi indah. Aku pun ingin dapat mengalir, ke tempat surgawi yang aku dapat berkarya dan menjadi indah pada waktunya.

Wahai Sang Surya, lindungilah mereka dari terikmu, jangan lah kau bakar dengan keagunganmu. Wahai Sang Angin, tuntunlah mereka dengan elok gemulai tarianmu, janganlah kau menyentakkan mereka dengan teriakanmu. Wahai Sang Air, berilah kesejukan pada dahaga yang menyerang, janganlah kau telan mereka untuk meluapkan dirimu ke atas tanah.

Semoga aku pun dapat berjuang dengan caraku sendiri, sekalipun aku hanya dapat terbang perlahan, aku ingin terbang dengan cantiknya, meninggalkan kepompongku, mengepakkan sayapku yang berpola berwarna-warni, di sekitar padang bunga yang penuh dengan nektar untukku meneruskan hidup, hingga ulat-ulat baru tumbuh menjadi kupu-kupu.