Yang terbaik?

Dec 6th, 2009 Posted in Bersyukur | one comment »

I was actually felt quite surprised when I saw some people post comments about my man. Not sure whether it’s about me and my man or not. Since there’s a lot of stupid people in the Internet these days. People who like spamming people’s blogs.

sai says:
November 1, 2009 at 3:16 PM (Edit)

TIGGALKAN PACARMU……..
SEBELUM KAU MENYESALI KEPUTUSANMU…..
BERPIKIRLAH…………….

and this other one:

HOKAGE says:
November 1, 2009 at 3:20 PM (Edit)

MASIH BANYAK LELAKI BAIK DI DUNIA INI……

Since I haven’t checked my blog for quite a long time, I was quite surprised by the thing. Hahaha.. It’s quite funny that I never got any kind of this message before. I think it’s kinda stupid, too! Hahahaha.. Which is why I want to write a thing that had been there, in my mind, long before I knew anyone wrote such comments in my blog.

I think, it’s kind of funny, when I hear people say,”Aku bukan yang terbaik bagi mu,” or ,”Apa kamu yakin bahwa aku yang terbaik untuk mu?” Whether it’s from sinetron, or from real life, or from movies, or from songs.. I think it’s kinda retarded in some ways. Okay, I know that some people are convinced that I am weird, and a bit abnormal. I think they are well convinced :D *teehee* I am weird, and am proud to be myself,  and not to push my own personality to be  acquainted as normal by the society.

I don’t think that there’s any one who’s best for us. Remember that no one is perfect. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Remember? I heard that lousy cliche everywhere. People say,”I’m not perfect.” And we can hear this statement everywhere, anywhere, and especially on interviews. Quite often. Hm.

And thus.. I started thinking, that there is no one best for others. Yang ada hanya lah kita menerima mereka menjadi yang terbaik bagi kita. Karena bagaimana pun baiknya seseorang tetap ada kelemahannya. Dari segi apa pun itu.

Terus, kalau dipikir begitu, bukan kah akan selalu ada orang yang baik untuk kita, banyak yang lebih baik lagi, dan akan terus begitu? Karena manusia itu selalu menginginkan yang lebih baik, serakah untuk yang terbaik. Namun akhirnya orang yang bijaksana akan menyadari, bahwa yang terbaik akan terjadi ketika kita mencukupkan sesuatu untuk diri kita sendiri. Ketika kita mensyukuri bahwa apa yang kita miliki sudah cukup. Kita tidak akan ingin korupsi, bila itu tentang uang, dan kita tidak akan mengingini wanita lain, bila kita adalah seorang suami, dan kita tidak akan mengingini pria lain, bila kita adalah seorang istri. Karena prinsipnya adalah bersyukur.

Dan yang Tuhan berikan pasti adalah yang terbaik bagi kita, sekalipun, sering kali kita tidak dapat melihat di mana kah letak sisi yang terbaik itu bagi kita. Karena itu.. aku berpikir, bahwa manusia itu harus berhenti sebentar dan melihat, bahwa yang terbaik itu, sebenarnya pada sendirinya, tidak ada. Hanya akan terwujud ketika kita mensyukuri apa pun itu yang telah kita dapatkan dan miliki.

Tentu saja ini tidak sama dengan menginginkan untuk berkembang dan menjadi lebih baik, seperti di dalam pekerjaan, maupun di dalam sekolah, di mana kita menginginkan untuk memperoleh nilai yang paling tinggi di kelas. Keinginan untuk berkembang berbeda dari keserakahan. Aku rasa wajar saja bila orang ingin memiliki yang terbaik, itu adalah sifat dasar manusia yang dapat berkembang menjadi keserakahan. Namun kita tetap harus ingat, bahwa banyak di dalam hidup ini, yang terbaik itu tidak eksis, yang ada adalah kita menjadikan sesuatu itu yang terbaik bagi kita sendiri. Dengan bersyukur.

Aku bersyukur aku mengenal Yesus, yang telah membuka mataku, terhadap keanekaragaman, dan bagaimana kita hidup di dunia ini tidak sekelompok atau setipe saja, untuk percaya bahwa bukan hanya kelompok kita yang terbaik, namun semua itu baik. Aku bersyukur aku dilahirkan di keluargaku, yang mengajarku berbagai hal yang baik, aku bersyukur.. aku mengenal laki-laki itu, yang membuatku sadar akan kehidupan yang indah, namun tidak selalu dipenuhi hal-hal yang indah, yang membuatku sadar akan kerasnya dunia, dan betapa jahatnya kenyataan. Namun di tengah semuanya yang jahat dia menjadi sisi yang indah pada kehidupan ini, yang membuatku benar-benar menyadari bahwa di dunia ini manusia tidak hidup sendirian, namun bersama dengan komunitasnya, bersama dengan komunitas lain, bersama dengan alam, bersama dengan alam semesta.

Betapa aku dulu ini anak yang naif sekarang menjadi lebih dewasa hanya dengan bersamanya.. Dan memang betapa banyak kita dapat memilih siapa dan apa, namun apa yang telah kupilih dan Tuhan berkati, itu lah yang terbaik bagiku, yang kubuat menjadi TERbaik. :D

Kurasa manusia sering dan sangat sering, egois. Ingin yang terbaik in one catch. Tidak mau mengembangkan sesuatu menjadi yang terbaik. Aku rasa kebahagian yang bertahan lama didapat dari mengusahakan sesuatu. Dan itu lah yang telah terjadi denganku. Aku mengusahakan sesuatu, yang tidak kudapat dengan mudah sama sekali. Bahkan merupakan salah satu tantangan terbesar di dalam hidupku. Namun dengan jerih payah yang luar biasa, yang dapat membuat orang putus asa, aku terus berjalan ke masa depan yang aku percaya aku dapat kembangkan menjadi luar biasa baik, dan aku tengah menuai kebahagiaan. Ini baru yang paling awal. Dan proses itu tak pernah berhenti. Dan penuaian itu pun tak berhenti.

Terima kasih pada Tuhan, Bapaku, yang selalu merawatku, sekalipun di jalan-jalan tertentu ku telah tinggalkan Mu, namun Bapa, tak pernah sekali pun tinggalkan ku. Di jalan berduri dan berbatu tajam, di lorong yang gelap dan sepi, dan di tempat ramai yang membingungkan, Bapa selalu bersamaku, kuatkan ku, dan kuatkan kami.

Terima kasih Bapa, segala kemuliaan ada padaMu. Amin.

Back to life.

Dec 6th, 2009 Posted in Discombobulated | no comment »

It’s been a really long time.

Just now, there was actually a 10 minute pause, between the first line and this line I wrote.  I heard something fell quite hard, upstairs. It spook me out, since I’m home alone. There was nothing like it happened before. It had the impression of heavy, metal object fell from some height, not high, I guess it’s just around 20-30 cm. But really had an impact, since it was  that rounded stuff my father put on his bench press to exercise his muscles.

I took a stick (my grand father’s bird walking stick) and went upstairs, peeking out from the mirror placed on the middle of the small space between the stairs that showed me what’s going on. And I saw…

Nothing, actually.

I thought it was the cat. One of the stray cats hanging around my house. But I didn’t see any creature with two pointed ears and green colored pyramidal eyes anywhere. I looked around to see if there’s any whatever things hiding behind something. Did not find any proof. It was as quiet as any Sunday morning in December, quiet and quiet.. But I remembered seeing something the other day. Something I thought as someone’s shadow passing below the door, just a flash, really. I could not say for sure.

And that kind of shadow, I just saw it once again. Still, not sure. But there’s no risk to take, when I myself have no buff areas on my body. Better to take a precaution. So I did, I locked the other door that might lead anything that was out there to the chance to entering the space I’m in now. I put the very stick my grand father had for his late age, on my lap. I hope it won’t be participating in any adverse events I don’t want to be a part in.

Wish me good luck. A real lucky one.

And mind you, this is no fiction. I wrote it out while I was really having a stick on my lap. Geez. I never thought I’d do this embarrassing stuff.

Rebirth.

Dec 6th, 2009 Posted in Trying to be Neutral | no comment »

Well, this is to celebrate the rebirth of this stupid blog.

Ha.

Cobaan? Tantangan? Kesempatan? Apa lagi?

Jul 15th, 2009 Posted in Trying to be Neutral | 3 comments »

“Cobaan kah ini?”

“Tantangan?”

“Atau kah sebuah kesempatan?”

Nyahiks..

Diriku sedang menghadapi suatu hal yang biasa kudahapi kuhadapi ketika masih sekolah dulu (cieeeee… kaya sekarang udah kerja bae). Laporan. Tulisan.

Banyak yang membenci tugas semacam. Membuat laporan. Membuat artikel. Membuat tulisan. Apapun itu yang harus membaca berbagai referensi kemudian dipikir dan dikaji,dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan atas kata-kata dan bahasa sendiri, yang tersusun sistematik dan rapi.

Jangan dikira mudah, namun juga jangan dianggap sukar. Karena semua orang sebenarnya mampu. Kerap kali banyak faktor yang membuat kita sulit untuk berpikir. Dari mana aku harus menulis ini? Dengan bahasa seperti apakah aku harus menulis tentang ini? Bagaimanakah aku menonjolkan inti dari apa yang ingin aku tulis?

Nah. Sekarang, aku tidak (never say no before you try) belum bisa menjawabnya. Writer’s block. Atau kusebut lebih tepatnya, koas’s block.

Saat ini aku sedang menderita flu, yang walau pun hanya lah flu, bukan typhoid, bukan malaria (malarindu tropikangen sih iya), bukan DHF – namun menimbulkan penderitaan yang cukup besar bagiku. Di mana aku saat ini harus mempertahankan imunitasku sebaik mungkin di tengah orang-orang yang sedang menderita sakit. Bukan hanya saja aku tidak ingin tertular, tapi terlebih, jangan sampai menulari pasien. Wah, itu bisa disebut iatrogenic nggak ya, kalo aku nularin flu pasien-pasien yang aku “tangani” (ditanda petik, soalnya, bukan bener-bener dalam penangananku, antara LOC <level of competence> 2-3 pada umumnya). Penderitaan pusing, mengantuk, batuk, suara yang tertimbun riak (pake masker lagi).. Bener-bener melelahkan. Padahal kalo aku lagi fit, aku nggak bakalan merasa seperti ini.

Aku yang sehat, biasa tidur hanya sedikit. Memang terkadang aku bisa tidur lama, namun kualitas tidurku jarang sekali bisa baik. Selalu bangun dengan rasa letih dan seperti kurang tidur (halah, tanda-tanda depresi iks). Paling tidak, aku bisa lah kalau cuman tidur jam 12 nanti bangun lagi jam 4, ngerjain pekerjaan di rumah, terus siap-siap buat ke RS, berangkat jam 5an. Pulang dari RS jam 5-7 malam. Belajar dan nggarap tugas lagi.

But now?? Saat sakit flu begini, jadi butuh banyak tidur, sekali pun nggak kurang berkualitas, tapi tetap harus dipaksa berbaring dan istirahat. Waktu untuk belajar hampir tidak ada, hanya bisa belajar sekilas-kilas dari membuat tugas. Seperti saat ini, di mana aku harus membuat tugas tulisan untuk BPH (benign prostate hypertrophy – dulu dinamai benign prostate hyperplasia). Ada sih dari emedicine. Tapi waktu di print ada 24 halaman dengan font arial ukuran 8. Haha. Sedang AKAN aku baca.

Nah, kembali ke judul. Apakah ini cobaan? Apakah ini tantangan? Apakah ini suatu kesempatan? Atau.. apa??

Semua itu adalah suatu perspektif yang dapat kita terapkan pada semua aspek yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Memang pekerjaan orang-orang dalam bidang kesehatan cenderung agak lebih berat dibanding pekerjaan lain, terutama dalam hal risiko kesehatan. Apalagi dalam dunia yang sekarang ini sangat sering dan sangat mudah menyebut malpraktik (padahal tahu definisi malpraktik aja belum tentu tahu ya :p ).

Suatu hal atau tugas yang harus kita hadapi, dan akan menimbulkan akibat yang buruk apabila menunaikannya kita hindari/ kita tunda, memang dengan mudah kita anggap suatu cobaan. Apalagi ketika menjalaninya tengah dalam sakit, atau pun di’ganggu’ oleh tugas maupun hal lain yang harus kita selesaikan pada waktu yang bersamaan (multitasking), suatu tuntutan dalam multirole yang ada dalam hidup setiap manusia.. Tapi setiap cobaan tak lepas dari tag ‘tantangan’. Karena suatu cobaan juga merupakan tantangan untuk kita pecahkan. Terlebih lagi, setiap tantangan merupakan kesempatan bagi kita untuk mencicipi pengalaman, yang entah nantinya akan berhasil atau tidak (berhasil baik dengan relatif mudahl; berhasil dengan sindiran/ celaan; berhasil karena belas kasihan; maupun berakhir pada kegagalan), tapi itu adalah kesempatan bagi kita untuk berkembang!! Kegagalan bukan lah akhir, namun adalah awal yang baru untuk memulai kembali apa yang kita coba dan belum berhasil. Dengan gagal, kita jadi ingat lubang mana yang sebaiknya (bila waras) jangan diinjak lagi. Namun tentunya memang ada lubang yang nampaknya terkamuflase dengan baik, dan akhirnya terinjak lagi (hwakakakakaka).

Yah.. marilah marilah, ayo kita mengerjakan tugas.

Setelah menulis jadi semakin plong dan clear, walaupun efek dari obat-obatan flu semakin membuat kelopak mataku ptosis.. Ingin menjatuhkan dirinya dan menutupi sepasang jendela jiwaku, hibernasi sejenak dari hiruk-pikuknya pikiran yang sedang berteriak-teriak membangunkannya, untuk menyusun ratusan hingga ribuan kata mengenai BPH..

Ayoooo!!! Ganbatte!!!

Ikhlas

Jul 12th, 2009 Posted in Trying to be Neutral | one comment »

“Aku ikhlas kok.”

Seberapa sering kita mendengar pernyataan ini, baik persis demikian, maupun yang serupa? Entah itu keluar dari mulut kita sendiri, dari mulut kawan kita, dari mulut mereka yang terdekat dengan kita?

Seberapa banyak kata-kata itu diucapkan dengan benar-benar menyadari makna dari kata ‘ikhlas’? Berapa banyak orang yang memahami konsekuensi dari kata ‘ikhlas’?

Retoris.

Bahkan saya dan Anda pun, menurut logika pribadi saya, tidak menyadari hal tersebut. Setidaknya tidak setiap kali kita mengatakan bahwa kita ikhlas terhadap sesuatu hal. Ikhlas mengesankan bahwa kita melapangkan dada terhadap apa pun itu yang kita nyatakan ‘ikhlas’. Kita tidak mengharapkan sesuatu hal untuk dibalaskan terhadap kita. Seringkali kita hanya merasa ikhlas terhadap hal-hal yang menurut kita kurang berharga dibandingkan sesuatu yang lain, yang kita anggap lebih berharga dari apa yang kita ikhlaskan tadi. Belum tentu halnya ketika memang kita mengikhlaskan hal-hal yang kita anggap lebih berharga. Abstrak?

Memang abstrak. Karena sesuatu yang dianggap berharga bagi seseorang itu tidak sama dengan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

Setelah beberapa saat, kata ikhlas kita baru akan diuji. Bila orang yang kita tujukan kata “ikhlas” itu mengatakan atau melakukan sesuatu hal yang tidak berkenan bagi kita. Pernahkah (atau malah sering kah) Anda mendengar pernyataan (retoris) berikut ini:  ”Kurang apa sih aku ini?” atau pun variasinya, “Aku kurang apa lagi sih?” dan biasanya kata-kata tersebut dapat disambung dengan deskripsi segala macam hal yang telah dilakukan untuk orang itu.

Yah, kita dapat menilai sendiri kemudian, apakah seseorang benar-benar memaksudkan kata  ikhlasnya. Keikhlasan adalah memberikan sesuatu, apa pun itu, tanpa kita menginginkannya kembali, entah dalam bentuknya yang semula, atau dalam bentuk lainnya. Dari pengamatan saya, jarang ada orang benar-benar memaksudkan kata ikhlas nya. Ini adalah kenyataan yang saya temui. Namun saya percaya memang ada orang yang benar-benar sanggup untuk ikhlas tanpa mengharap pujian, bantuan, maupun kekaguman dari orang yang mendengar/ melihat bentuk keikhlasannya.

Saya berharap bahwa saya sendiri dapat menjadi salah satu orang yang dapat mengamalkan kata “ikhlas” sesuai dengan maknanya, bukan hanya untuk merenda kata cantik untuk menghiasi perbuatan ‘baik’ belaka. Amin.

One Little Chunk of K3M – 1

Jun 28th, 2009 Posted in Discombobulated | one comment »

One little chunk of K3M. Maybe not all of people ever heard of K3M. So what’s K3M?

K3M is kuliah kerja kesehatan masyarakat.

KKN? Kuliah Kerja Nyata.

Are these two the same?

Nope, but still siblings. Yeah, KKN itu memberi sumbangsih pada masyarakat, dan bentuk kegiatannya sebagian besar adalah secara fisik, seperti membangun beberapa bagian dari suatu daerah. Biasanya yang disebutkan adalah membangun jembatan, atau papan penunjuk arah, atau dapat juga menyumbangkan tenaga dan kesabaran dalam mengajar anak-anak TK/ SD.

K3M itu dipusatkan pada masalah kesehatan. Mahasiswanya harus berbaur dengan masyarakat setempat, dan menganalisa masalah kesehatan prioritas di tempat itu. Masalah kesehatan apakah yang harus ditangani dengan cepat di tempat itu. Begitulah.

When I heard the word K3M (or is it not a word?) the acronym K3M, at the time I was doing K3M, I thought of these words:

  • painful
  • boring
  • home
  • home
  • home
  • Yogya
  • unnecessary

I grew up solitarily. I didn’t have many friends, and I only had two or three very close friends. Other than that I thought of them as acquintances. I grew up being an individual person. Everything is about me. I didn’t want to involve other people too much, maybe because I was afraid of getting hurt, being left alone after I had been cherished by their presence. Thus, it was very painful to me, at the early phase of K3M. I had to blend with lots of people who were not individual at all. They didn’t put privacy and solitude as their number one principles. They put social stuffs (whatever, like gathering, handshaking everyone around, doing this and that for others, you name it) above all. And that’s not what I grew up with. I was quite tired, actually..

But I, as one untrained person, being dropped off at a “war” zone (I have never gone anywhere far from advanced civilization – cities), got ill and fell down to the ground. I didn’t have my parents, I didn’t have my Aan, I didn’t have anyone close to me to help me. I did not expect, but these people I knew recently helped me without asking anything. They understood me, they offered help that I couldn’t ask. That’s when I realize.. People should help each other, without asking,”what’s the advantage of me doing this/ that?”.

I think most people already learn this early in their life, but I only learned this in the middle of my 23rd year living in this world. Not too late, I hope.

Now I think of K3M as the precious experience that taught me how to fit in, or at least.. try to fit in. Not to be too narrow-minded about life. Trying to accept others’ mind, others’ concepts, others’ music, others’ favorites. We can’t all be same, and no one of us is better than the others. The same thing goes to our favorites, my favorites aren’t better than others’ favorites. I might think that Jazz is way better than Dangdut, but truth betold, it’s just my own perception. It’s different to those who love Dangdut music. We are human, but we aren’t just living being. We think, we live, we socialize, and that’s how a person become a person. Otherwise, a person would just become a Homo Sapien. A species, but not mankind.

Back From Temporary Death *Ha!*

Jun 28th, 2009 Posted in Trying to be Neutral | one comment »

Warning! This post contains too many topics in one shot! Haha..

Yep yep yep..

I’m back and I’m back! Yeehawww! *happy*

Oh, how refreshing it is to finally have my hands on this old, dirty, unstylish keyboard! Hahahaaa!

My fingers feel like playing its’ best shot at speed typing.. Words are flowing freely from my rotten *too harsh* rusting *i’m not a piece of metal, doh* previously hibernating [well, sounds more like it!] brain.. The clouds cluttering on the opening of that shimmering light of  are flown by the breeze of my cheerful mind!

After almost 6 weeks (exactly 5 weeks and 4 days) staying at Binangun district of Cilacap.. I finally found my true home. Ever heard of this cliche,”Home is where the heart is” ? Because it’s true, it’s very true! I had never really appreciate my own home before. Not until I stayed out of my circle of comfort. And then, I realized that I’ve been wasting my time complaining about whatever it is that I have, and not yet have, instead of giving praise to the Lord, to my parents, to my Aan, to myself, that I am who I am, and live where I live, have what I have.

Ahahaha, sounds pretty darn stupid! Anyway.. It’s been ages that I haven’t written anything. Writing always reminds me one of my favorite muse. Ryan You. Hehehhehe.. Ryan’s my best friend. Eventhough it has been quite some time that we didn’t meet or talk to each other, due to lots of things. But I’m sure next time we could catch up very well. I miss reading her writings, cause she writes touching articles, and yet sends the dart on the bull’s eye! Well.. That’s how I think it is. I admire her..

Now that I have the chance to write.. There’s just too many topics I want to write.. I don’t know which to put here first.. Hmmm.. Maybe I should eat first? I’m hungry!!

*chew chew* Hmm.. I’m eating sate right now.. Haha.. My mom bought the sate at Semarang.. Sate sapi.. Beef satay ^^ Deliiiiciouussss!!

*eating yesterday’s dim sum* My father went to a restaurant and bought some dim sum. I’m eating the lumpia.. Only one, though, since I don’t want to go overboard. Hehehe..

*eating yesterday’s fried tempeh* Hmmm.. I didn’t finish my meal yesterday and so I kept it in the fridge and make it my breakfast.

*eating the dim sum again..* I love hakao..

And.. drinking Delfi’s Instant Hot Chocolate! I made it real hot. *Howl* Life is good!!

Okay.. Now back to writing..

Life is good, life is. Of course there’s always changes, there’s always the down times, there’s always the fun times. C’est la vie. That’s life! But it doesn’t mean that we should be pessimistic of our future, and also THE future. Because as long as human have hope, human could make it. I’m being cliche, I know. But my recent experience of being a part of the community, and really a part of it, makes me think that well.. nobody needs no one. Everyone needs each other to survive. Although it often does not seem that way, because when we’re at our best, we feel alright to be just alone. But look at when we’re at the downs, what if no one helped? But someone will eventually come to our aid, somehow. And it amazed me how this world works..

I’m being unclear about what I write..

I guess I’m still too perplexed :) Later, I’ll write something better than this post..

*Back to Delfi’s Hot Chocolate.. *

Mencoba Mobile Blogging — Tidak Berhasil

Jun 28th, 2009 Posted in Trying to be Neutral | no comment »

Mencoba Mobile Blogging tidak belum berhasil dengan wordpress. Karena ngenetnya pake PDA rada repot, sinyal GPRS naek turun, yah.. monggo, akhirnya aku transfer saja setelah sampai di Jogja.

The text below was written (by me, of course) @ June 19th 2009, Binangun, Cilacap:

Sudah lama sekali aku tidak menulis, sejak stase Jiwa. Sudah sebulan lebih, terhitung dari hari-hari sebelum aku terdampar di sebuah tempat terpencil yang tidak dilewati angkutan umum. Tempat di mana mobilku tak boleh kuajak bersama.

Sebuah kecamatan bernama Binangun, di kabupaten Cilacap. Internet bukannya tidak ada, tapi cukup jauh dari tempat tinggalku di Binangun (kalau berjalan kaki). Naik motor ke Kroya sekitar 15 menit saja.. Sayang aku tak pandai naik motor, jadinya begini.. Merasa terkungkung.
Nasib baik berjalan 5 menit dari rumahku (baca: tempat kos, rumah Pak Tarjo) di Binangun, ada Alfamart. Hampir tiap hari berkunjung ke Alfamart, merasakan sedikit penurunan suhu yang cukup melegakan dibanding hawa luar Cilacap.
Kami (aku dan 4 orang teman K3Mku) di sini tinggal cukup dekat dengan pantai. Hanya 3km dari rumah. Pantai Widara Payung, namanya. Pantainya indah, namun seperti kebanyakan lokasi wisata di Indonesia, kebersihan jelas bukan termasuk keunggulannya.

Yang patut diperhatikan di tempat ini adalah keindahan langitnya. Sungguh berbeda dengan langit kota asalku, Yogyakarta, maupun langit kota-kota besar yang menyesakkan.. Memandang langit di sini, siang maupun malam, memberi kecerahan bagi pikiran yang tengah dilanda awan gelap, meskipun sedikit..

Namun tak dapat diingkari, sangat besar keinginanku berbaring di dalam rumahku di Yogya, memandang langit-langitnya yang terkadang memercikkan sedikit debu lapuk, sambil terlena dalam pikiranku,”Home sweet home..”

Yah, sebaiknya tidak kuteruskan. Membuatku malas bergerak maju. Minggu depan aku sudah menginjak kembali rumput halamanku..

Saat ini aku tengah duduk *petangkringan* di dalam kamarku, escaping from my duties and tasks – writing this post.
I better get myself together, because I still have so many things to finish

Untitled 1

May 9th, 2009 Posted in Discombobulated, Meow Wuff Squealsqueal | one comment »

Judulnya ‘untitled 1′.

Tidak tahu mau kasih judul apa.

Semakin hari aku semakin ingin jadi psikiater. Entah mengapa aku senang mengobrol dengan mereka. Aku senang menggali apa yang menjadi stressor bagi mereka. Sebelum kujalani aku merasa malas, tapi setelah aku jalani merasa ini menyenangkan!

Rasanya menyenangkan bila kita dapat dipercaya oleh mereka yang tidak dapat percaya pada orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Rasanya menyenangkan bila kita dapat membuat mereka pulih kembali. Sekalipun kesembuhan itu tidak datang hanya dari usaha satu pihak saja. Memang harus bekerja keras. Tapi dengan sedikitnya jumlah psikiater, sungguh itu tidak mudah.

Banyak orang berbicara tentang penyembuhan holistik. Namun yang terjadi di sekitar kita adalah penyembuhan secara fisik saja. Yang paling parah adalah pengobatan yang sifatnya cuman simptomatik. Sakit lambung ya diberi antasid, diberi PPI, diberi sucralfat kalo ada yang harus ditambal :p Sakit otot/ sendi diberi anti-inflammatory or NSAID. Kepala pusing juga NSAID.

Simptom2 di atas itu banyak yang adalah gejala-gejala dari masalah-masalah kejiwaan. Mahasiswa yang akan ujian banyak yang merasa sakit lambung, para lansia/ orang tua banyak yang merasa sakit dada (yang tidak berhubungan dengan aktifitas dan nampaknya tidak ada sebab yang jelas). Yang harusnya diberikan?

Konseling. Psikoterapi. Supportif saja sudah membantu. Sayangnya memang.. Dokter tidak tersebar merata, melainkan terpusat di tempat uang mengalir dengan kayanya.. Dokter juga butuh hidup! Aku sih pengennya punya sumber uang selain dari praktek dokter, sehingga aku nggak akan mencampur hedonia ku dengan pasienku. Menurutku itu wajib. Karena sungguh seenak udelnya sendiri kalo menuntut dokter memberikan service yang terbaik tapi dokter itu susah duit, susah apa-apanya. Betul itu. Tugas masyarakat dan pemerintah juga bagaimana semuanya dapat menarik keuntungan. Tidak hanya salah satu pihak.

Heran memang, tapi tidak aneh dan tidak lazim. Bila dokter dianggap (dan mungkin diharuskan) oleh masyarakat untuk dapat menyembuhkan. Dokter itu “berusaha”. Dokter toh juga manusia. Kalo memang dokter itu pasti bisa menyembuhkan justru keseimbangan populasi dunia jadi kacau. Begitu banyak yang lahir dan orang yang terus sehat dan hidup lama. Padahal orang-orang muda yang sehat itu pasti juga mau punya anak. Belum lagi orang-orang yang tidak peduli untuk kontrasepsi, punya anak banyak, tapi nggak bisa ngurusi dengan baik. Hah. Dunia mungkin bisa lebih cepet punah. Resources dipakai terus-menerus, tapi tidak bisa kita mau memajukan laju siklusnya kan. Lama-lama habis semuanya.

Bukan aku menentang orang untuk mempunyai anak (dan mungkin banyak). Tapi manusia itu memang tidak pernah puas dan tidak realistis. Sekarang adalah jamannya hukum tidak bersahabat dengan medis. Banyak pengacara yang kurang kerjaan sekarang kali ya. Mencari-cari masalah dan kesalahan orang-orang medis. Menuntut yang tidak-tidak. Pandai benar berputar-putar. Memang benar ada prinsip altruism, di mana tidak sepatutnya dokter bertindak yang dapat merugikan pasiennya dan dia sendiri. Tapi dokter (sekali lagi aku tekankan) adalah orang-orang biasa, yang tadinya bukan dokter, mencoba mempelajari ilmu tentang manusia (yang juga tidak 100% pasti – karena di dunia ini tidak ada yang 100% pasti) dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatannya. Prinsipnya trial and error. Ada basicnya tentunya, jadi pasti kita tidak akan mengobati orang dengan racun tikus atau baygon (sarkastik nih). Dokter adalah orang yang  mencoba dan berusaha dengan ilmu yang dia miliki, untuk membantu meringankan beban sakit seseorang, dan memperpanjang kehidupan seseorang.

Sekali lagi dokter bukan Tuhan. Kalau pasien itu tidak bisa hidup lebih lama, walaupun para dokter telah berusaha, yah.. memang jalannya begitu. 

 

Ah.. ngelantur lagi deh..

Kejiwaan dan Selongsongnya?

Apr 14th, 2009 Posted in Trying to be Neutral | 3 comments »

Mulai kemarin ini, aku menjalani stase baru. Stase Ilmu Penyakit Jiwa.
Bukannya mudah. Menurutku ini termasuk yang paling sukar. Karena tanpa algoritme yang jelas di dalam kepala kita, akan sangat sulit untuk mendiagnosa seseorang.
Penyakit jiwa itu sungguh tidak mudah untuk didiagnosa. Bendanya abstrak! Pemeriksaannya pun menggunakan kepandaian kita berbicara dan menempatkan diri terhadap pasien dan juga keluarganya.

Selain itu aku menjadi berpikir. Bahwa yang paling berat bukanlah penyakit-penyakit seperti di penyakit dalam, maupun THT, maupun mata.. Tetapi penyakit yang mengubah kepribadian seseorang yang dahulu kita kenal, menjadi seseorang yang lain dan seolah-olah seperti orang itu telah berganti kepribadian.
Seolah-olah orang yang kita kenal itu, bertukar badan dengan orang lain yang tidak kita kenal. Hanya saja tubuh, wajah, dan penampilannya mirip sekali. Sangat mirip.

Bagiku, terasa lebih menyakitkan seperti ini. Bila seseorang telah tiada, dipanggil Yang Kuasa, kita memilikinya di dalam ingatan. Kita sakit hati hanya karena tidak bisa bertemu secara fisik lagi. Namun semua tentangnya yang kita kenang tetap abadi selama kita mengenangnya. Hal-hal yang membuatnya menjadi seseorang yang khas itu, seorang Agus yang adalah Agus yang kita kenal. Seorang Berta yang adalah Berta yang kita kenal. Seorang Chris yang adalah Chris yang kita kenal. Bukan sekadar orang bernama Agus, Berta, ataupun Chris yang mana-mana saja. Lebih sakit hati, mungkin, karena secara fisik kita masih melihat dan merasakan mereka ada. Namun, kita harus mengenal ulang mereka. Karena mungkin, mereka telah menjadi seseorang yang.. entahlah, kita kenal atau tidak ya?

Namun bila ia telah menyerang, kita masih melihatnya bernapas, makan, dan jantungnya berdetak. Namun, sepertinya mereka yang kita kenal ini, bukan lagi yang kita kenal. Agus, Berta, dan Chris telah kehilangan inti yang menjadikan kita mengenal mereka sebagai Agus, Beta, dan Chris kita. As if they have become someone else, only with the same name.

It’s scary..
It’s devastating..
I suppose.

Entahlah. Aku rasa memang tidak ada sakit yang menyenangkan. Tidak kuat juga melihat kenalan atau pun saudara kita menderita sakit ginjal, sakit jantung. Namun, dia boleh saja tidak menderita penyakit-penyakit dalam begitu, tetapi dia menjadi berubah. Nyaris sama sekali??

Aku sangat takut. Mungkin aku lebih takut karena aku takut ini akan terjadi kepadaku.
Aku takut aku akan berubah menjadi seseorang yang lain. Karena aku telah mulai merasakannya semenjak aku semakin bertambah usia. Aku merasakan bahwa sifatku berubah dari aku yang dulu.

Menakutkan.

Entah ini hanya sebuah fase karena hidupku sempat mengalami beberapa cobaan yang memang tidak aneh mengubah sifat seseorang. Atau memang hal itu adalah suatu bom waktu yang memang telah meledak di suatu titik kehidupanku yang lalu? Atau itu hanya sebuah mercon yang akan menginisiasi bom-bom yang sesungguhnya?

We’ll never know.
My body’s time will explain, later. Ketika apoptosis semakin merajalela. Ketika regenerasi sel ku semakin buruk. Metabolisme semakin lambat. It’s the real time.

 Page 1 of 3  1  2  3 »